Saturday, July 28, 2012
Tower Of Babel part I
The Tower of Babel (Hebrew: מגדל בבל Migdal Bavel Arabic: برج بابل Burj Babil), according to the Book of Genesis,was an enormous tower built in the plain of Shinar (Hebrew: שנער).
According to the biblical account, a united humanity of the generations following the Great Flood, speaking a single language and migrating from the east, came to the land of Shinar, where they resolved to build a city with a tower "with its top in the heavens...lest we be scattered abroad upon the face of the Earth." God came down to see what they did and said: "They are one people and have one language, and nothing will be withholden from them which they purpose to do." So God said, "Come, let us go down and confound their speech." And so God scattered them upon the face of the Earth, and confused their languages, and they left off building the city, which was called Babel "because God there confounded the language of all the Earth." (Genesis 11:5-8).
The Tower of Babel has often been associated with known structures, notably the Etemenanki, a ziggurat dedicated to Marduk by Nabopolassar (c. 610 BC).
Tuesday, July 24, 2012
Origin Of Language
I cannot doubt that language owes its origin to the imitation and modification, aided by signs and gestures, of various natural sounds, the voices of other animals, and man’s own instinctive cries.
The origin of language in the human species is a widely discussed topic. Despite this, there is no consensus on ultimate origin or age. Empirical evidence is limited, and many scholars continue to regard the whole topic as unsuitable for serious study. In 1866, the Linguistic Society of Paris went so far as to ban debates on the subject, a prohibition which remained influential across much of the western world until late in the twentieth century.[1] Today, there are numerous hypotheses about how, why, when, and where language might first have emerged.[2] It might seem that there is hardly more agreement today than there was a hundred years ago, when Charles Darwin's theory of evolution by natural selectionprovoked a rash of armchair speculations on the topic.[3] Since the early 1990s, however, a growing number of professional linguists, archaeologists, psychologists, anthropologists, and others have attempted to address with new methods what they are beginning to consider "the hardest problem in science"
— Charles Darwin, 1871. The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex.
The origin of language in the human species is a widely discussed topic. Despite this, there is no consensus on ultimate origin or age. Empirical evidence is limited, and many scholars continue to regard the whole topic as unsuitable for serious study. In 1866, the Linguistic Society of Paris went so far as to ban debates on the subject, a prohibition which remained influential across much of the western world until late in the twentieth century.[1] Today, there are numerous hypotheses about how, why, when, and where language might first have emerged.[2] It might seem that there is hardly more agreement today than there was a hundred years ago, when Charles Darwin's theory of evolution by natural selectionprovoked a rash of armchair speculations on the topic.[3] Since the early 1990s, however, a growing number of professional linguists, archaeologists, psychologists, anthropologists, and others have attempted to address with new methods what they are beginning to consider "the hardest problem in science"
Wednesday, December 24, 2008
my profile.
bukan menjadi sesuatu yang menarik bagiku berada disini saat ini,karena aku sendiri belum bisa memberikan sesuatu yang terbaik bagi hidupku. sebenarnya kalau bisa aku kaji lagi,hidup memberikan banyak hal yang terlalu indah untuk dilewatkan. tapi terkadang manusia banyak menuntut hal lebih dari yang dia dapatkan.aku telah mendapatkan semua hal itu,tapi tak bisa aku pungkiri aku sering menuntut hal lebih dalam hidup. 1 hal yang selalu aku tuntut yaitu tentang kebebasan mutlak pada hidupku karena aku paling tidak suka dengan batasan.
yach aku Dhiemaz,Adhiemaz timor tepatnya.yang lain sering memanggilku dim2. aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana tetapi tidak pernah mengkesampingkan kebahagiaan dalam rumah tangga.apakah kalian ingat tragedi berdarah para revonis2 negeri ini,pejuang cendikiawan muda bangsa yang menuntut kebebasan mutlak bagi bangsanya.yang berusaha menjatuhkan rezim orde baru. yach itulah tanggal lahirku,tepat tanggal 13 mey tetapi mundur sebelas tahun dari kejadian tersebut. sekilas kalian mungkin berfikir kenapa aku banyak mengangkat tentang kebebasan mutlak dalam tulisan ini,sesungguhnnya karena aku sendiri sangat mendukung hal itu. aku memberikan lampu hijau pada gerakan anak bangsa yang berani merong-rong masuk ke dalam sistem pemerintahan kita dan menghacurkan semua kebusukan didalamnya. memang aku sendiri merasakan kemarahan yang amat sangat bila mengingat atau berbicara tentang pemerintahan karena kebusukan didalamnya sangat gamblang dijelaskan.pernah aku berfikir apakah aku terlahir dinegara yang salah? tetapi tidak aku rasa,karena semangat2 pejuang negeri ini sangat besar.bukan orang2 pemerintahan pastinya tetapi orang2 yang berada dibalik itu semua yang ingin tetap memperjuangkan keutuhan segala yang pernah ada dulu. berhenti bicara tentang politik,aku salah satu dari sekian mahasiswa yang berada dan kuliah dijogja.ini tentangku,
bukan menjadi sesuatu yang menarik bagiku berada disini saat ini,karena aku sendiri belum bisa memberikan sesuatu yang terbaik bagi hidupku. sebenarnya kalau bisa aku kaji lagi,hidup memberikan banyak hal yang terlalu indah untuk dilewatkan. tapi terkadang manusia banyak menuntut hal lebih dari yang dia dapatkan.aku telah mendapatkan semua hal itu,tapi tak bisa aku pungkiri aku sering menuntut hal lebih dalam hidup. 1 hal yang selalu aku tuntut yaitu tentang kebebasan mutlak pada hidupku karena aku paling tidak suka dengan batasan.
yach aku Dhiemaz,Adhiemaz timor tepatnya.yang lain sering memanggilku dim2. aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana tetapi tidak pernah mengkesampingkan kebahagiaan dalam rumah tangga.apakah kalian ingat tragedi berdarah para revonis2 negeri ini,pejuang cendikiawan muda bangsa yang menuntut kebebasan mutlak bagi bangsanya.yang berusaha menjatuhkan rezim orde baru. yach itulah tanggal lahirku,tepat tanggal 13 mey tetapi mundur sebelas tahun dari kejadian tersebut. sekilas kalian mungkin berfikir kenapa aku banyak mengangkat tentang kebebasan mutlak dalam tulisan ini,sesungguhnnya karena aku sendiri sangat mendukung hal itu. aku memberikan lampu hijau pada gerakan anak bangsa yang berani merong-rong masuk ke dalam sistem pemerintahan kita dan menghacurkan semua kebusukan didalamnya. memang aku sendiri merasakan kemarahan yang amat sangat bila mengingat atau berbicara tentang pemerintahan karena kebusukan didalamnya sangat gamblang dijelaskan.pernah aku berfikir apakah aku terlahir dinegara yang salah? tetapi tidak aku rasa,karena semangat2 pejuang negeri ini sangat besar.bukan orang2 pemerintahan pastinya tetapi orang2 yang berada dibalik itu semua yang ingin tetap memperjuangkan keutuhan segala yang pernah ada dulu. berhenti bicara tentang politik,aku salah satu dari sekian mahasiswa yang berada dan kuliah dijogja.ini tentangku,
Subscribe to:
Posts (Atom)